Memilah Sekolah ala Ahlusunah Wal Jamaah an Nahdiyah

  • by

Sekolah, Sesuai Amaliah Ahlusunah Wal Jamaah

Oleh; Kang Udin

Sabtu akhir pekan  minggu lalu, saya bertamu kerumah seorang sahabat sekaligus senior saya yang sangat lama tidak bertemu, beliau adalah seorang Nasionalis dan NU Garis mbah hasyim banget pokoknya, sampai kalo kita lagi becanda tentang siapa yang paling NU diantara kita, dia selalu menjawab “saya itu lebih NU dari NU- NU yang lain’, hehe. Beliau memang seorang aktifis sosial di lingkungannya, sekaligus ustad dan guru ngaji bagi anak-anak kecil di sekitar tempat tinggalnya, saya bersaksi jika beliau adalah seorang penganut faham ahlusunah wal jamaah an Nahdiyah alias NU tulen, beliau juga lahir dari dunia pesantren, hanya saja kebetulan beliau tidak melanjutkan pendidikan tinggi, dan hanya sampai lulus SLTA saja. Saat saya bertamu kemarin, beliau memang telah memiliki dua orang anak yang masih kecil, salah satu diantaranya baru lulus PAUD (pendidikan anak Usia dini) dan mau masuk sekolah dasar (SD), disela obrolan receh kami, saya menyempatkan bertanya dimana anaknya mau masuk SD, beliau menjawab dengan bersemangat kalo anaknya mau di sekolahkan di sebuah SD swasta Islam Terpadu (*sensor). Belaiupun menambahkan dengan penuh semangat dan antusias yang luar biasa,‘menceritakan tentang calon sekolah untuk anaknya tersebut, dari mulai tradisi membaca alquran tiap pagi, hingga pembinaan dan pembibingan ekstrakurikuler formal dan islami. Saya hanya bertanya apakah beliau mengenal staf pengajar di sekolahnya, beliau menjawab yang pasti katannya semuannya terlihat soleh dan solehah, dan tidak ada yang mencurigakan (maklum beliau juga anti ISIS2’an). Ketika pulang kerumah saya jadi berfikir jika ini adalah fenomena atas jawaban terhadap setiap permasalahan tentang perbedaan ideology seorang tua nahdiyin dengan anaknnya dikemudian hari. Kita banyak sekali menjumpai contoh-contoh dimana orang tuanya NU tulen lalu anaknya berubah menjadi anti terhadap NU dan amalannya.

Kawan-kawan boleh berfikir, memang tidak ada masalah dengan cara pengajaran dan pembelajaran di sekolah tersebut secara langsung, tapi kalo kawan-kawan melihat ini dari perspektif penanaman ideology justru inilah yang harus berikan gambaran mengapa sekolah-sekolah dengan label islam Terpadu tidak terlalu recomanded untuk orang tua Nahdyin seperti kita, setidaknya ada 2 alasan utama menurut saya; petama rekan-rekan harus faham history, latar belakang dan filsafat lahirnya sekolah islam Terpadu ini, yang kedua adalah tentang visi pemberdayaan dengan memilih sekolah Nahdiyin menjadi sekolah sekolah unggulan untuk anak-anak kita.

untuk mengetahui bagaimana sekolah islam Terpadu pada umumnya beroperasi, perlu saya ceritakan bagaimana saya mengenal komunitas ini, ketika saya masih dibangku SMA saya pernah aktif di kegiatan forum lingkar pena (FLP) dan dari sini membawa saya mengenal seorang senior, mahasiswa aktifis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang merupakan organisasi mahasiswa yang punya sejarah kedekatan dengan NU, dan memiliki adik IPNU – IPPNU, darinya saya belajar tentang retorika gerakan dan politik mahasiswa, namun ketika masuk dunia pendidikan tinggi, saya justru lebih tertarik dan masuk ke dalam gerakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), pada masannya saya menganggap organisasi ini masih sangat idealisdibanding eksternal kampus yang lain, saya pun mengikuti kurikulum mereka secara berjenjang dari Daurah Marhalah 1 (DM1) hingga DM2 dan beberapa kegiatan yang lain, bahkan ketika saya menjadi mentri luar Negri BEM Fakultas  Universitas saya di Jawa tengah, saya ikut kemudian mengkader adik-adik saya untuk mengikuti jejak langkah saya.tapi tak lama sebelum saya mencalonkan diri menjadi Presiden BEM dan mengikuti Latihan Kader 1 (LK 1) HMI di salah satu kota di Jawa timur, pada saat ini pula saya memutuskan untuk keluar dari KAMMI. Cerita ini sengaja saya ceritakan diawal agar rekan-rekan tau, jika memang pada masanya saya mengerti dan faham betul bukan dari literasi akademik saja, tapi saya memang berada di lingkaran tersebut. tahun 2013 jauh ebelum pemerintah mengeluarkan Perpu pembubaran ormas radikal sebagai triger pembubaran organisasi HTI. di kampus saya sudah lebih dulu lantang menolak HTI, bahkan menolak Gema Pembebasan (GP) yang merupakan anak organisasi mahasiswa HTI untuk masuk ke kampus. Saya menolak karena ideology gerakannya yang ingin mendominasi pemaknaan khilafah semau jidatnya.

Tapi tau tidakah rekan-rekan semua jika ada organisasi yang memiliki tujuan yang hampir mirip dengannya hanya menggunakan metode yang berbeda. Inilah organisasi yang akan saya ceritakan punya tujuan membentuk sekolah Terpadu tadi. secara simple biasannya mereka menamakan diri “Gerakan tarbiyah Islamiyah Indonesia”, secara politik mereka memang memiliki afiliasi dan kedekatan dengan partai keadilan Sejahtera, di kampus mereka ini terbagi menjadi tiga bidang keahlian (Siyasi, Ilmi dan Tarbi) masing – masing punya fokus kaderisasi, dan tempat kaderisasi. Anak yang terkategori siyasi dia akan membangun gerakan melalui lembaga politik mahasiswa (BEM/SENAT/DEMA dll), tapi yang tergabung dalam kategori “Ilmi” mereka akan membangun kaderisasi melalui (lembaga penelitian/kelompok studi dll), nah yang kelompok yang kategori “tarbi” mereka akan membangun kaderisasi lewat (lembaga Dakwah Kampus/kegiatan masjid kampus dll). Sangat terstruktur bukan,? Mereka juga memiliki kredo gerakan yang luar biasa, bahkan mereka memiliki tahapan perjuangan yang lebih jelas dibanding HTI dalam meng konsep sebuah Negara Islam versi mereka, orang – orang yang oleh sebagian orang di sebut ikhwanul musliminnya Indonesia ini memiliki apa yang disebut dengan 4 mihwar Dakwah (Tandzimi, Khalaqi, Muasasi dan Dauly), bagi mereka untuk membuat satu buah negara menjadi Islam (versi mereka) tak perlu merubah namannya atau gembar gembor khilafah seperti HTI. Mihwar tandzimi adalah tahapan seseorang harus dibuat Islam (versi mereka) dimulai dari cara berpakaian, gaya Bahasa dan pemikiran, ditahap ini kalo yang berhasil biasannya terlihat dari perubahan komuikasi antum, ane, akhi ukhti dll, kemudian masuk ke mihwar berikutnya adalah khalaqoh / Liqo yang berarti lingkaran atau keluarga, atau orang-orang terdekat. Kalo dikampus, ini biasannya antara senior ke adik-adiknyadengan cara liqo (semacam ngaji sorogan kalo di NU) Murobi seniornya, mutarobinya adik-adik mereka sendiri. Dilevel SLTA ini biasannya sudah mulai ada lewat ROHIS (tentu tidak semua rohis demikian). Kemudian yang ketiga mihwar Muasasi (pengambil kebijakan), di level ini sering disebut dengan tahapan aplikatif, yang di BEM kadernya membuat kebijakan BEM sesuai dengan visi organisasi mereka, yang di sekolah juga demikian, yang dikementrian juga begitu. Oleh karenannya pertarungan politik di kampus menjadi menarik kalo sudah menjelang pilpres BEM, karena ada pertarungan ideology disini. Nah, setelah semua kebijakan telah sesuai dan dikuasai orang-orang mereka, maka Negara ini sudah islam (versi mereka) inilah yang disebut Dauly. Sampai sini tentu kawan kawan paham, mengapa kaderisasi menjadi begitu penting buat mereka, mengapa organisasi dan motor politik mereka begitu solid meski dihantam isu daging sapi sekalipun, karena militansi kader mereka dibangun dari kecil, dari pendidikan. Ini yang sering dilupakan oleh pemikir pemikir kita, padahal lawan seimbang dari system ini, lagi-lagi adalah “Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pembentukan akhlaq.

Ekspansi mereka kini tak lagi hanya di dunia kampus, mereka mulai membangun jaringan di beberapa perusahaaan dengan kegiatan pengajian-pengajian masjid perusahaan, kelompok keluarga karyawan, dan pendidikan dasar melalui sekolah-sekolah simbolik (Terpadu) dengan kampanye islam khafah (dari cara berpakaian/gaya komunikasi dan lebih ke symbol symbol) yang membuat orang tertarik, bahkan orang dari kaum Nahdiyin. Maka jika ingin anak kita tetap seakidah dan seamaliyah dengan kita, rekan-rekan harus berani bersikap, mengutamakan sekolah  – sekolah yang berafiliasi dengan oragnisasi NU, atau pun jika di sekolah Negri, sebagai orang tua, perhatian dan pemantauan menjadi sangat penting. Lagi pula saya pernah membaca sebuah karya penelitian jika Muhamadiyah sekarang telah menjadi organisasi dengan asset terbesar, bukan organisasi masa terbesar lagi setelah NU, kenapa.? Padahal sekolah mereka begitu banyak bertebaran, Rumah sakit mereka dimana mana. Gedung dakwah mereka bertebaran juga. Jawabannya adalah, karena sebagian besar kader mereka telah masuk kedalam kelompok ini secara ideology, sebabnya Muhamadiyah memiliki irisan yang mirip sama – sama  sebagai pembaharu Islam di Indonesia.  Bedannya muhamdiyah adalah orgaisasi yang ikut tumbuh membesarkan NKRI. Dan mereka tidak. Maka penting kirannya saya sampaikan, saran saya mari kita kuatkan kaderisasi dan aktifitas kultural kita sebagai warga Nahdiyin.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *