Kau Kafir! Atau sebenarnya aku yang kafir?

  • by

Kau Kafir! Atau sebenarnya aku yang kafir?
Bantarbolang,ipnubantarbolang.com,-

“barang siapa mengatakan kepada saudaranya sesame musli, “hai kafir!”  Maka kalimat itu akan kembali kepada salah seorang diantara keduanya. Jika saudaranya memang demikian (maka seperti yang dia katakan), tetapi kalau tidak, maka kalimat itu akan kembali kepada diri sendiri”

Permasalahan takfir ini telah dijelaskan oleh para ulama “tidak lebih utama membunuh seribu orang kafir daripada menumpahkan darah satu orang muslim” oleh sebab itu kita harus lebih hati – hati dalam hal tersebut.

Syeh ahmad bin Zaini Dahlan (Mufti Makkah) menulis dalam bukunya telah membaca risalah tulisan Syekh Muhammad Bin Sulaiman Al Kurdi Al Madani penulis kitab Al-Hawasyi ala Mukhtashar bin Afdhal perihal Fikih madzhab syafi’i. Dalam kitab tesebut beliau menceramahi muridnya Muhammad bin Abdul Wahhab (Pendiri sekte Wahabi).

Dalam risalah tersebut, Syeh Ahmad bin Zaini Dahlan berkata “Wahai Putra Abdul Wahhab, semoga kesejahteraan tercurah kepada orang yang mau mengikuti petunuk. Sesungguhnya aku menasihatimu karena Allah. Hendaknya engkau menjaga lidahmu terhadap umat islam. Jika engkau mendengar seseorang yang meyakini bahwa segala sesuatu selain Allah yang dimintai pertolongan (al-Mutaghats bihi) itu mampu membuat pengaruh, maka ajarkanlah dia yang benar dan sebutkanlah padanya dalil – dalil yang menyatakan bahwa segala sesuatu selain Allah tidak mampu mendatangkan apa – apa. Jika orang yang engkau beri nasehat tetap pada pendiriannya yaitu berhadap kepada selain Allah maka engkau hanya berhak memfonisnya kafir untuk dirimu sendiri (hanya diri sendiri yang mengatakan dan tidak untuk disampaikan kepada oranglain).
Tidak dapat dibenarkan menghukumi kafir walau hanya untuk diri sendiri atas dasar kebencian dan atau berbeda pandangan politik sedangkan orang yang dihukumi kafir masih dalam tauhid yang sesuai ajaran Islam, jika tetap bersikeras memfonisnya kafir maka sebenarnya kamu sendirilah yang telah menjadi takfir.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

hal ini menjadi peringatan untuk kita bahwa tidak dibenarkan memfonis oranglain kafir sedangkan orang tersebut masih berada dijalan Allah dengan Syahadat yang sama (bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad Utusan Allah). dan ketika orang tersebut ternyata benar – benar telah keluar dari syariat Islam maka hanya dibenarkan menghukuminya kafir untuk diri sendiri (tidak untuk disampaikan dalam orasi ataupun sejenisnya) karena kafir atau tidak hal itu berkaitan dengan iman sedangkan iman  ada didalam hati dan perkara hati hanya Allah yang tahu.

Wallahu a’lam

Aw.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *